03 Jun 2011

Ini adalah sebuah penggalan kecil bagian awal, dari episode drama cerita wayang ‘Boma Nara Sura’ yang sedang saya susun.
Sebuah tragedi cinta segi tiga yang rumit, penuh pengorbanan, dan
sangat menghancurkan; karena melibatkan perselingkuhan dengan saudara
kandung, ditambah dengan sebuah fenomena ‘titisan’ yang pada masa lampau
disebabkan oleh terjadinya suatu skandal yang menggemparkan dan sangat
memalukan di dunia kahyangan para dewa-dewa.
More
03 Jun 2011

Ki
Lurah Bagong adalah nama salah satu tokoh panakawan dalam kisah
pewayangan yang berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tokoh ini
dikisahkan sebagai anak bungsu Semar. Dalam pewayangan Sunda juga
terdapat tokoh panakawan yang identik dengan Bagong (dalam bahasa Sunda:
bagong berarti babi hutan, celeng), yaitu Cepot atau Astrajingga,
adalah anak tertua Semar, dan di versi wayang golek purwa- Sunda
terkenal dengan sebutan Cepot atau Astrajingga , disebut juga Gurubug
atau Kardun, sedang di Jawa Timur lebih dikenal dengan nama Jamblahita.
Di daerah Banyumas, panakawan ini lebih terkenal dengan sebutan Bawor,
Pada wayang Banjar – Kalimantan Selatan ia dipanggil Begung.
More
02 Jun 2011

Pagelaran
wayang dan/atau karawitan, di masa sekarang dikenal sebagai suatu
pagelaran yang dimainkan menurut suatu ‘gagrak’ (pola, gaya, mahzab,
atau corak) dan ‘pakem’ tertentu. Seperti pada lukisan, dikenal ada
lukisan gaya naturalis, gaya super-naturalis, gaya abstrak, gaya modern
dan sebagainya. Seperti itu pula permainan alat-alat gamelan yang lazim
disebut ‘karawitan’. Bahkan kita pada masa sekarang, juga mengenal
sejumlah seniman karawitan dan/atau wayang yang menonjol dalam suatu
gagrak tertentu.
More
02 Jun 2011

Pagelaran
wayang, sejak beratus tahun yang lampau, selalu diawali dengan
dimainkannya suatu konser karawitan khas, yang mengawali setiap
pagelaran wayang. Konser karawitan yang sangat khas ini, lazim disebut
‘talu’ (dalam bahasa Jawa) atau ‘tatalu’ (dalam bahasa Sunda). Konser
karawitan ini, dimainkan sekitar satu jam, sebelum pagelaran wayang yang
sesungguhnya dimulai. Seluruh filosofi cerita kehidupan manusia, sejak
ia belum ada, kemudian lahir, berubah menjadi remaja, menginjak dewasa,
dan berubah menjadi tua renta, serta akhirnya sampai pada masa kembali
tiada (kembali ke haribaan Yang Maha Kuasa), diceritakan dan
ditampilkan dalam sekumpulan komposisi gendhing (lagu). Ini merupakan
ringkasan seluruh kehidupan manusia di ‘alam jana loka’. Sedangkan
pagelaran wayang yang dimainkan semalam suntuk (sekitar 7 – 8 jam),
sebenarnya hanya merupakan penggalan sepersejuta dari seluruh kehidupan
manusia di dunia ini.
More
02 Jun 2011

Pagelaran
wayang (khususnya pagelaran wayang kulit purwa), seperti yang kita
kenal pada masa sekarang, seringkali dipahami secara sepotong-sepotong
dan tidak lengkap. Bahkan ada yang berpendapat, bahwa pagelaran wayang
selalu dilakukan pada malam hari semata. Ini merupakan pemahaman yang
lazim di kalangan masyarakat kita. Tetapi, apakah kita pernah memahami
bagaimana sebenarnya pelaksanaan pagelaran wayang secara lengkap?
More
02 Jun 2011

Pagelaran
wayang yang dilakukan untuk keperluan ‘ruwatan’, lazimnya juga
dilakukan di sekitar tanggal 1 bulan Sura. Pada masyarakat suku-bangsa
Jawa, pagelaran wayang kulit purwa yang dilaksanakan dalam rangka
‘ruwatan’, lazimnya juga disesuaikan untuk keperluan tertentu. Secara
adat dikenal ada sejumlah upacara ‘ruwatan’ yang berbeda-beda. Namun,
banyak juga masyarakat kita yang sebenarnya tidak mengerti apa itu
ruwatan, bagaimana, mengapa, dan untuk apa pagelaran wayang
dilaksanakan.
More
29 May 2011

Wayang
kulit, or shadow puppets as they are more commonly known as in English,
are part of an ancient heritage of pre-Hindu culture that still exists
in many regions around Indonesia. The word wayang means puppet, while
kulit means skin. Wayang puppets are cut from thin pieces of buffalo
hide and intricately carved and decorated to symbolize different
characters. The figures are braced with a single support stick and often
have articulating arms and legs that can be manipulated to act out
dramatic scenes.
More
Loading…
29 May 2011

Memahami
penonton ‘tradisional’ pada suatu pagelaran wayang, memang menarik. Di
wilayah kota besar, mungkin karena kesibukan sehari-hari masyarakat yang
luar biasa, maka peri-laku penonton menjadi lain dari pada saat suatu
pagelaran wayang di pentaskan di wilayah pedalaman. Cobalah simak,
pernyataan asisten Ki Purboasmoro yang menyatakan komentarnya di bawah
ini.
More
29 May 2011
Pagelaran
wayang, seharusnya tampil sebagai suatu peristiwa imajiner yang terjadi
di dalam benak kita, di mata-hati kita; dan bukan sekedar pertunjukan
ragawi, yang tampil hanya di mata-raga kita.
More
29 May 2011
Pagelaran
wayang kulit, lazimnya menerapkan sejumlah pakem tertentu. Misalnya,
pakem sabetan wayang, pakem anta-wacana, pakem janturan, pakem garap
gendhing, dan sebagainya. Sejauh pelaksanaannya menghasilkan sesuatu
yang baik, luhur, bernilai tinggi, bermartabat, dan estetis; tentulah
penerapan pakem itu akan menaikkan nilai kemanusiaan kita.
More
29 May 2011
Bima,
seorang ksatria berdarma utama dan sekaligus juga seorang ‘mahasiswa’,
dan sama sekali bukanlah seorang ‘minisiswa’, yang menerima dan menelan
mentah-mentah begitu saja semua kata-kata gurunya. Ia merupakan gambaran
manusia yang selalu teguh dan tegar dalam pendirian, serta bijak dalam
bersikap.
More
28 May 2011
Saat Rahwana menculik Dewi Sinta, perbuatannya ketahuan oleh Jatayu. Jatayu berusaha merebur Dewi Sinta, namun gagal.
More
28 May 2011
Cangik dan Limbuk, dua tokoh klasik dalam jagat pewayangan, yang
menggambarkan orang yang setia kepada junjungannya. Mereka bukan sekedar
orang biasa atau ‘parekan’ (dayang-dayang), tetapi lebih dari
itu,mereka adalah sahabat dekat para junjungan putri atau permaisuri,
yang mengabdikan diri dengan kesetiaan tanpa batas.
More
28 May 2011
Gambar hitam-putih wayang tokoh Harjuna wanda kinanthi, yang memberikan kesan visual karakter ‘romantis’.
Gambar berwarna wayang tokoh Harjuna wanda kinanthi dalam bentuk rupa sudah ‘disungging’ (berwarna).
Saat dhalang hendak menampilkan adegan Harjuna yang sedang jatuh
cinta, maka dikeluarkanlah wayang Harjuna yang ber-wanda ‘kinanthi’.[1]
Atau, saat dhalang hendak melakonkan Prabu Bala Dewa yang sedang dalam
keadaan marah, maka dipakailah wayang Bala Dewa ber-wanda ‘geger’.[2]
Saat dhalang hendak menampilkan adegan ‘Perang Kembang’ dengan tokoh
raksasa yang terkenal di seantero jagat karena buas, banyak gerak, dan
cekatan; maka ia mengeluarkan wayang Cakil yang ber-wanda ‘kikik’.[3]
Saat adegan Gathut Kaca sedang marah, maka dipakailah wayang Gatut Kaca
ber-wanda ‘thathit’.[4] Sewaktu dhalang hendak menampilkan tokoh Bima
Sena yang sedang mengamuk, maka dikeluarkankan wayang Bima Sena yang
ber-wanda ‘guntur’.[5] Lalu, pertanyaannya ‘wanda’ itu apa?
More
Loading…
28 May 2011
28 May 2011

bagian ini disebut jamang lidi satu (sada saeler)
jamang = semacam hiasan pada kepala
sada/lidi = jari-jadi tulang daun kelapa
saeler = satu/satu buah
jamang lidi satu, mengapa bisa disebut demikian?
Aryo Sunaryo ArtiStudio: saya juga heran mengapa bentuknya begitu. Tp
mestinya berbentuk logam gilik sebesar lidi yg dililitkan pada kepala
(tokoh Sung Go Kong mengenakannya..=)). Dalam wayang, terutama yg
berjamang tunggal (bukan susun) sunggingannya tampak polos (prada) dan
kecil menuju ke arah sumping. Hanya kemudian di bagian depan masih
sering hiasan jamang itu divariasi dgn motif makara, meskipun ukurannya
kecil. Untuk jamang susun, sebutannya jamang kirata, hutyaka, turidha.
28 May 2011

Aryo Sunaryo ArtiStudio : sosok wayang yg sekarang, sebenarnya
merupakan perkembangan wayang yg telah ada sejak zaman dulu (Hindu/
Budha). Tokoh-tokoh wayang bahkan dipandang sebagai leluhur yg kemudian
menurunkan raja-raja di Jawa. Sedangkan wayang zaman dulu merupakan
gambaran sosok pada masanya. Pada waktu itu bahkan sebelum masa
Majapahit, baik laki-laki maupun perempuan biasa mengenakan perhiasan
telinga, sebagaimana yg dapat kita lihat pada relief candi.
sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150121572137614&set=a.110374642613.85181.110035027613&type=1&ref=nf
28 May 2011

Aryo Sunaryo ArtiStudio : analog dgn uncal wastra (kain => sampur)
yg juga “dilempar”, atau diseblakake ketika menari, sy kira uncal
kencana ialah perhiasan yang menggantung dr pinggang (lentur seperti
kalung) yg juga berkelebat seperti terlempar ketika yg memakainya
berjalan atau bergerak. Hiasan semacam itu misalnya, juga tampak jelas
dikenakan oleh Rama dalam relief candi Prambanan.
sumber :
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150123989372614&set=a.110374642613.85181.110035027613&type=1&ref=nf
28 May 2011

Kisah
ini berbeda dengan riwayat atau silsilah panakawan pada umumnya, namun
ini menambah perbendaharaan dan memperkaya kisah tentang “dewa serta
panakawan” dalam pewayangan.
Diterjemahkan bebas dari Karya R.U.Partasuwanda, Dalang masyhur pada
jamannya dekade 1950 – 1970, dengan ciptaannya “wayang golek moderen” :
More
28 May 2011
Pahatan Praba
Laman e-wayang terus bergerak mengolah teknologi digital dipadukan dengan cita rasa seni kriya wayang kulit purwa.
Dalam perjalanan olah rasa, berhenti sejenak menyapa komunitas untuk mohon masukan , berbagi pengalaman dan pendapat.
Maju terus e-wayang . Semangat .
(1)
https://www.facebook.com/home.php#!/photo.php?fbid=10150130108597614&set=a.110374642613.85181.110035027613&type=1&theater
Praba dengan pola pahatan patran ..

Kepada para pengkriya wayang, mohon masukan mengenai tata cara dan tahapan membuat pahatan patran.
Sumber : laman e-wayang.
(2)
https://www.facebook.com/home.php#!/photo.php?fbid=10150130244462614&set=a.110374642613.85181.110035027613&type=1&theater

Praba, masih banyak pahatan yang bertabrakan, agak berbeda dengan
pahatan biasa, karena pahatan pada praba, bersifat “menyisakan” bentuk.
Pada pahatan lain, lubang pahatan digunakan mewakili bentuk.
Sumber : laman e-wayang.
28 May 2011

” Abilawa “. Pengungkapan rasa Dwi Klik Santosa, penulis buku cerita bergambar ‘ Abimanyu Anak Rembulan ‘.