Rabu, 30 Mei 2012

WAYANK

Ini adalah sebuah penggalan kecil bagian awal, dari episode drama cerita wayang ‘Boma Nara Sura’ yang sedang saya susun.
Sebuah tragedi cinta segi tiga yang rumit, penuh pengorbanan, dan sangat menghancurkan; karena melibatkan perselingkuhan dengan saudara kandung, ditambah dengan sebuah fenomena ‘titisan’ yang pada masa lampau disebabkan oleh terjadinya suatu skandal yang menggemparkan dan sangat memalukan di dunia kahyangan para dewa-dewa.
More

Bagong – Bawor – Cepot

Ki Lurah Bagong adalah nama salah satu tokoh panakawan dalam kisah pewayangan yang berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tokoh ini dikisahkan sebagai anak bungsu Semar. Dalam pewayangan Sunda juga terdapat tokoh panakawan yang identik dengan Bagong (dalam bahasa Sunda: bagong berarti babi hutan, celeng), yaitu Cepot atau Astrajingga, adalah anak tertua Semar, dan di versi wayang golek purwa- Sunda terkenal dengan sebutan Cepot atau Astrajingga , disebut juga Gurubug atau Kardun, sedang di Jawa Timur lebih dikenal dengan nama Jamblahita. Di daerah Banyumas, panakawan ini lebih terkenal dengan sebutan Bawor, Pada wayang Banjar – Kalimantan Selatan ia dipanggil Begung.
More

Gagrak dan Pakem

Pagelaran wayang dan/atau karawitan, di masa sekarang dikenal sebagai suatu pagelaran yang dimainkan menurut suatu ‘gagrak’ (pola, gaya, mahzab, atau corak) dan ‘pakem’ tertentu. Seperti pada lukisan, dikenal ada lukisan gaya naturalis, gaya super-naturalis, gaya abstrak, gaya modern dan sebagainya. Seperti itu pula permainan alat-alat gamelan yang lazim disebut ‘karawitan’. Bahkan kita pada masa sekarang, juga mengenal sejumlah seniman karawitan dan/atau wayang yang menonjol dalam suatu gagrak tertentu.
More

Gendhing Talu , Cerita Kehidupan Manusia

Pagelaran wayang, sejak beratus tahun yang lampau, selalu diawali dengan dimainkannya suatu konser karawitan khas, yang mengawali setiap pagelaran wayang. Konser karawitan yang sangat khas ini, lazim disebut ‘talu’ (dalam bahasa Jawa) atau ‘tatalu’ (dalam bahasa Sunda). Konser karawitan ini, dimainkan sekitar satu jam, sebelum pagelaran wayang yang sesungguhnya dimulai. Seluruh filosofi cerita kehidupan manusia, sejak ia belum ada, kemudian lahir, berubah menjadi remaja, menginjak dewasa, dan berubah menjadi tua renta, serta akhirnya sampai pada masa kembali tiada (kembali ke haribaan Yang Maha Kuasa), diceritakan dan ditampilkan dalam sekumpulan komposisi gendhing (lagu). Ini merupakan ringkasan seluruh kehidupan manusia di ‘alam jana loka’. Sedangkan pagelaran wayang yang dimainkan semalam suntuk (sekitar 7 – 8 jam), sebenarnya hanya merupakan penggalan sepersejuta dari seluruh kehidupan manusia di dunia ini.
More

Pembabakan Pagelaran Wayang

Pagelaran wayang (khususnya pagelaran wayang kulit purwa), seperti yang kita kenal pada masa sekarang, seringkali dipahami secara sepotong-sepotong dan tidak lengkap. Bahkan ada yang berpendapat, bahwa pagelaran wayang selalu dilakukan pada malam hari semata. Ini merupakan pemahaman yang lazim di kalangan masyarakat kita. Tetapi, apakah kita pernah memahami bagaimana sebenarnya pelaksanaan pagelaran wayang secara lengkap?
More

Pagelaran Wayang Ruwatan

Pagelaran wayang yang dilakukan untuk keperluan ‘ruwatan’, lazimnya juga dilakukan di sekitar tanggal 1 bulan Sura. Pada masyarakat suku-bangsa Jawa, pagelaran wayang kulit purwa yang dilaksanakan dalam rangka ‘ruwatan’, lazimnya juga disesuaikan untuk keperluan tertentu. Secara adat dikenal ada sejumlah upacara ‘ruwatan’ yang berbeda-beda. Namun, banyak juga masyarakat kita yang sebenarnya tidak mengerti apa itu ruwatan, bagaimana, mengapa, dan untuk apa pagelaran wayang dilaksanakan.
More

Ancient Shadow Puppets (Wayang Kulit)

Wayang kulit, or shadow puppets as they are more commonly known as in English, are part of an ancient heritage of pre-Hindu culture that still exists in many regions around Indonesia. The word wayang means puppet, while kulit means skin. Wayang puppets are cut from thin pieces of buffalo hide and intricately carved and decorated to symbolize different characters. The figures are braced with a single support stick and often have articulating arms and legs that can be manipulated to act out dramatic scenes.
More
Previous Older Entries

Catatan Dari Berbagai Pagelaran Wayang

Memahami penonton ‘tradisional’ pada suatu pagelaran wayang, memang menarik. Di wilayah kota besar, mungkin karena kesibukan sehari-hari masyarakat yang luar biasa, maka peri-laku penonton menjadi lain dari pada saat suatu pagelaran wayang di pentaskan di wilayah pedalaman. Cobalah simak, pernyataan asisten Ki Purboasmoro yang menyatakan komentarnya di bawah ini.
More

Merenungkan Pagelaran Wayang Kita

Pagelaran wayang, seharusnya tampil sebagai suatu peristiwa imajiner yang terjadi di dalam benak kita, di mata-hati kita; dan bukan sekedar pertunjukan ragawi, yang tampil hanya di mata-raga kita.
More

Merenungkan “PAKEM”

Pagelaran wayang kulit, lazimnya menerapkan sejumlah pakem tertentu. Misalnya, pakem sabetan wayang, pakem anta-wacana, pakem janturan, pakem garap gendhing, dan sebagainya. Sejauh pelaksanaannya menghasilkan sesuatu yang baik, luhur, bernilai tinggi, bermartabat, dan estetis; tentulah penerapan pakem itu akan menaikkan nilai kemanusiaan kita.
More

Bima, Seorang ksatria dan mahasiswa yang teguh, tegar, dan bijak menetapkan sikap

Bima, seorang ksatria berdarma utama dan sekaligus juga seorang ‘mahasiswa’, dan sama sekali bukanlah seorang ‘minisiswa’, yang menerima dan menelan mentah-mentah begitu saja semua kata-kata gurunya. Ia merupakan gambaran manusia yang selalu teguh dan tegar dalam pendirian, serta bijak dalam bersikap.
More

Cinta Rahwana Hanya Untuk Sinta

Saat Rahwana menculik Dewi Sinta, perbuatannya ketahuan oleh Jatayu. Jatayu berusaha merebur Dewi Sinta, namun gagal.
More

Cangik dan Limbuk, Dua sahabat dengan kesetiaan tanpa batas…


Cangik dan Limbuk, dua tokoh klasik dalam jagat pewayangan, yang menggambarkan orang yang setia kepada junjungannya. Mereka bukan sekedar orang biasa atau ‘parekan’ (dayang-dayang), tetapi lebih dari itu,mereka adalah sahabat dekat para junjungan putri atau permaisuri, yang mengabdikan diri dengan kesetiaan tanpa batas.
More

WANDA, Adalah citra (image) khas Indonesia

Gambar hitam-putih wayang tokoh Harjuna wanda kinanthi, yang memberikan kesan visual karakter ‘romantis’.

Gambar berwarna wayang tokoh Harjuna wanda kinanthi dalam bentuk rupa sudah ‘disungging’ (berwarna).
Saat dhalang hendak menampilkan adegan Harjuna yang sedang jatuh cinta, maka dikeluarkanlah wayang Harjuna yang ber-wanda ‘kinanthi’.[1] Atau, saat dhalang hendak melakonkan Prabu Bala Dewa yang sedang dalam keadaan marah, maka dipakailah wayang Bala Dewa ber-wanda ‘geger’.[2] Saat dhalang hendak menampilkan adegan ‘Perang Kembang’ dengan tokoh raksasa yang terkenal di seantero jagat karena buas, banyak gerak, dan cekatan; maka ia mengeluarkan wayang Cakil yang ber-wanda ‘kikik’.[3] Saat adegan Gathut Kaca sedang marah, maka dipakailah wayang Gatut Kaca ber-wanda ‘thathit’.[4] Sewaktu dhalang hendak menampilkan tokoh Bima Sena yang sedang mengamuk, maka dikeluarkankan wayang Bima Sena yang ber-wanda ‘guntur’.[5] Lalu, pertanyaannya ‘wanda’ itu apa?
More

Sabuk Pending


Jamang Lidi Satu


bagian ini disebut jamang lidi satu (sada saeler)
jamang = semacam hiasan pada kepala
sada/lidi = jari-jadi tulang daun kelapa
saeler = satu/satu buah
jamang lidi satu, mengapa bisa disebut demikian?
Aryo Sunaryo ArtiStudio: saya juga heran mengapa bentuknya begitu. Tp mestinya berbentuk logam gilik sebesar lidi yg dililitkan pada kepala (tokoh Sung Go Kong mengenakannya..=)). Dalam wayang, terutama yg berjamang tunggal (bukan susun) sunggingannya tampak polos (prada) dan kecil menuju ke arah sumping. Hanya kemudian di bagian depan masih sering hiasan jamang itu divariasi dgn motif makara, meskipun ukurannya kecil. Untuk jamang susun, sebutannya jamang kirata, hutyaka, turidha.

Subang (hiasan pada telinga)


Aryo Sunaryo ArtiStudio : sosok wayang yg sekarang, sebenarnya merupakan perkembangan wayang yg telah ada sejak zaman dulu (Hindu/ Budha). Tokoh-tokoh wayang bahkan dipandang sebagai leluhur yg kemudian menurunkan raja-raja di Jawa. Sedangkan wayang zaman dulu merupakan gambaran sosok pada masanya. Pada waktu itu bahkan sebelum masa Majapahit, baik laki-laki maupun perempuan biasa mengenakan perhiasan telinga, sebagaimana yg dapat kita lihat pada relief candi.
sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150121572137614&set=a.110374642613.85181.110035027613&type=1&ref=nf

Uncal Kencana


Aryo Sunaryo ArtiStudio : analog dgn uncal wastra (kain => sampur) yg juga “dilempar”, atau diseblakake ketika menari, sy kira uncal kencana ialah perhiasan yang menggantung dr pinggang (lentur seperti kalung) yg juga berkelebat seperti terlempar ketika yg memakainya berjalan atau bergerak. Hiasan semacam itu misalnya, juga tampak jelas dikenakan oleh Rama dalam relief candi Prambanan.
sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150123989372614&set=a.110374642613.85181.110035027613&type=1&ref=nf

Sanghyang Rancasan & Asal Usul Panakawan

Kisah ini berbeda dengan riwayat atau silsilah panakawan pada umumnya, namun ini menambah perbendaharaan dan memperkaya kisah tentang “dewa serta panakawan” dalam pewayangan.
Diterjemahkan bebas dari Karya R.U.Partasuwanda, Dalang masyhur pada jamannya dekade 1950 – 1970, dengan ciptaannya “wayang golek moderen” :
More

Pahatan Praba oleh Laman e-wayang

Pahatan Praba
Laman e-wayang terus bergerak mengolah teknologi digital dipadukan dengan cita rasa seni kriya wayang kulit purwa.
Dalam perjalanan olah rasa, berhenti sejenak menyapa komunitas untuk mohon masukan , berbagi pengalaman dan pendapat.
Maju terus e-wayang . Semangat .
(1)
https://www.facebook.com/home.php#!/photo.php?fbid=10150130108597614&set=a.110374642613.85181.110035027613&type=1&theater
Praba dengan pola pahatan patran ..

Kepada para pengkriya wayang, mohon masukan mengenai tata cara dan tahapan membuat pahatan patran.
Sumber : laman e-wayang.
(2)
https://www.facebook.com/home.php#!/photo.php?fbid=10150130244462614&set=a.110374642613.85181.110035027613&type=1&theater

Praba, masih banyak pahatan yang bertabrakan, agak berbeda dengan pahatan biasa, karena pahatan pada praba, bersifat “menyisakan” bentuk. Pada pahatan lain, lubang pahatan digunakan mewakili bentuk.
Sumber : laman e-wayang.

Abilawa


” Abilawa “. Pengungkapan rasa Dwi Klik Santosa, penulis buku cerita bergambar ‘ Abimanyu Anak Rembulan ‘.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar